Info Penting Hari Ini !!!

Selamat Datang di KARYA KAMAL. Apa yang Sedang Sahabat Cari ??? Moga Blog Ini Bisa Membantu Sahabat Semua...!!! Kabar Gembira, Novel Sampan di Seberang akan segera dipublikasikan di blog ini agar para sahabat setia bisa menikmati karya yg pernah menang dalam kompetisi novel ini. Novel "Sampan di Seberang" diangkat dari kisah nyata pengalaman mengabdi di daerah terpencil. Novel "Sampan di Seberang" Tentang Pengabdian, Persahabatan & Kenangan, Tunggu Kehadirannya...!!! Karya Kamal; Novel Jalan Impian, Novel Pardangolan, Novel Sampan di Seberang, Buku Bait Bait Hati & Buku Facebook Mengguncang Dunia Akhirat. __Mustopa Kamal Batubara__ __Facebook: Mustopa Kamal Batubara.__ __Instagram: @kamal_btr.____Twitter: @mustopakamalBTR____Email: mustopakamalbatubara@gmail.com__ __Salam Karya Kamal__

Selasa, 14 April 2015

Pertemuan Terakhir dengan Emak
Oleh: Mustopa Kamal Btr



Sore nan indah di bawah lintasan pelangi. Burung-burung bernyanyi di ranting pohon nan rindang. Dedaunan menari mengikuti tiupan angin. Dari sebuah rumah kecil beralaskan tanah, aku memandang lukisan alam, maha karya sang pencipta kehidupan.
“Rahmat, semua barang yang mau dibawa nanti sudah dikemas Nak?” tiba-tiba sahut emak dari dapur.
“Sudah Mak, semuanya sudah dikemas tadi” jawabku dengan polos.
Malam ini aku akan meninggalkan kampung halaman menuju kota metropolitan, Jakarta. Tempat yang aku harapkan bisa mengubah nasibku menjadi lebih baik. Aku terpaksa pergi merantau karena tidak mampu lagi melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Gemerlap bintang dan rembulan turut menemani keberangkatanku di malam ini. Bus berwarna biru tua sudah memperlihatkan wujudnya dari kejauhan. Tiba-tiba tetesan hujan mengalir dari sudut mata emak. Emak terlihat sangat sedih sekali ketika melepas kepergianku. Air mataku juga tidak kalah tumpah-ruah ketika memeluk emak untuk berpamitan.
“Rahmat pamit Mak, emak jangan lupa doakan Rahmat
“Iya Nak, emak takkan lupa mendoakanmu
Bus yang aku tumpangi perlahan-lahan melaju meninggalkan Mandailing, kampung halaman yang telah setia jadi saksi bisu menemani semua kisahku.
Setelah menempuh perjalanan yang melelahkan, akhirnya bus yang aku tumpangi sampai di Kota Jakarta, kota sejuta magnet, kota yang sering dibicarakan orang-orang di kampungku. Tugu monas terlihat menyempurnakan keindahan kota metropolitan ini. Kota yang benar-benar mengagumkan bagi anak kampung sepertiku.
Setelah berada di stasiun bus, paman menjemputku. Beliau bukanlah paman kandungku, tetapi paman ini adalah sahabat karib dari almarhum ayah. Untuk sementara aku tinggal di rumah beliau, sebelum aku mendapat pekerjaan.
“Rahmat, selamat datang di Kota Jakarta” ungkap paman.
“Iya Paman, terima kasih atas sambutannya” jawabku.
“Barang-barangmu yang mana? biar kita berangkat ke rumah”
“Yang ini Paman”
“Kita berangkat ke rumah sekarang ya”
“Baik Paman”
Pagi yang sangat cerah, namun tak secerah hatiku saat ini, yang masih diselimuti kabut karena pekerjaan belum kunjung terlihat.
 “Rahmat, pekerjaan sekarang sangat susah di Jakarta ini, sudah genap satu bulan paman mencari pekerjaan yang pas untuk Rahmat, tapi hasilnya belum ada. Bagaimana kalau kamu jadi kernet angkot saja dulu?”
“Boleh juga Paman, kernet angkot paman ya?”
“Bukan, kernet angkot teman paman. Kalau kernet angkot paman kan masih ada Mat
“Baik paman, Rahmat mau”
“Baiklah, Paman nanti akan kabari teman itu dulu ya
“Iya Paman”
Amarah mentari tidak membuat semangatku surut menjadi kernet angkot di siang yang menyesakkan dada ini. Aku harus bersungguh-sungguh bekerja walaupun seribu rintangan menghadang dari segala penjuru. Aku ingin secepatnya melihat emak dan adik-adikku di kampung bahagia.
Belum genap dua minggu bekerja sebagai kernet angkot, tiba-tiba teman paman itu dengan terpaksa memecatku. Ia mengatakan bahwa kernet yang lama masih ingin tetap bekerja. Ia tersipu malu kepadaku, ia benar-benar minta maaf, aku pun memakluminya. Dengan hati yang sabar, kupasrahkan semua takdir kepada Sang Maha Kuasa. Aku yakin dibalik semua peristiwa ini pasti ada hikmahnya.
Belum sembuh luka di dada, tiba-tiba bumi runtuh menimpa. Paman mengusirku dari rumah dengan alasan tetangga sebelahnya meminta aku pergi dari sini. Kata paman, orang kaya tersebut tidak mau melihat aku dekat dengan Lia, putrinya. Padahal Lia yang selalu berusaha mendekatiku. Hidupku luntang-lantung di jantung kota metropolitan ini.
Tiba-tiba aku teringat dengan seorang sahabatku bernama Sabil, ia kuliah di Jakarta ini. Sabil adalah sahabat karibku ketika SMP dulu. Aku langsung menelepon Sabil. Alhamdulillah nomornya masih aktif.
Assalamu Alaikum. Benar ini Sabil?”
Walaikum salam. Iya benar, ini siapa ya?”
“Ini Rahmat Bil, teman satu SMP mu dulu
“O.. Rahmat, bagaimana kabarmu Mat?
Alhamdulillah baik Bil. Kamu baik juga kan Bil?”
Alhamdulillah baik Mat”
Bil gini, aku sekarang lagi di Jakarta. Ceritanya sangat panjang Bil, nanti aku ceritakan. Bil kalau tidak keberatan, apa kamu bisa jemput aku sekarang di monas?”
Oo… baik Bil, tunggu di sana biar aku jemput”
Lintasan pelangi menambah indahnya sore di tempat kos Sabil. Mentari mulai kembali tersenyum di peraduannya. Aku sangat berterima kasih kepada Sabil, atas semua kebaikan hatinya. Aku tidak tahu lagi mau mengucapkan apa kepada Sabil karena ia juga telah meminjamkan aku uang sebagai modal usaha. Aku sangat senang sekali, aku berjanji kepada Sabil akan menggunakan uang yang ia pinjamkan itu sebaik mungkin.
“Bil, terima kasih ya atas semua bantuannya
“Biasa ajalah Mat, kita sebagai manusia kan harus saling tolong menolong, gak usah sungkan-sungkan sama sahabat sendiri
Dengan modal uang yang dipinjamkan Sabil, aku sekarang bisa membuka usaha percetakan dan pembuatan spanduk. Bermodal kemahiran yang aku miliki sewaktu SMK di kampung, Alhamdulillah aku kembali berhadapan dengan pekerjaan yang butuh ketelatenan ini.
 Mentari benar-benar memperlihatkan rona keindahannya di tengah gersangnya kehidupan Kota Jakarta. Usaha percetakan dan pembuatan spanduk yang aku bangun, setiap hari semakin memperlihatkan kemajuan. Kini usaha yang aku rintis ini telah mempekerjakan lebih dari tiga ratus karyawan.
Karena saat ini aku sudah mapan dari segi ekonomi, aku putuskan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Walau bagaimanapun, menurutku pendidikan adalah hal yang sangat penting dalam hidup ini. Akupun kuliah di salah satu universitas bergengsi di Kota Jakarta.
Waktu begitu cepat berlalu. Hari ini adalah hari yang sangat mengesankan bagiku. Hari ketika aku resmi menyandang gelar sarjana pendidikan. Hari ketika aku akan diwisuda.
Assalamu ‘alaikum Bang” terdengar suara seorang gadis setelah aku mengangkat telepon yang ada di saku kananku.
Walaikum salam
“Bang, ini Nurul. Bang penyakit emak tiba-tiba kambuh. Kami tidak tau lagi mau berbuat apa”
“Apa ?” tiba-tiba aku kaget tidak karuan.
“Iya Bang emak sekarang cuma bisa berbaring di tempat tidur aja”
Nurul sudah panggil dokter ?
“Sudah bang, dokter sudah ada di rumah. Abang bisa gak pulang secepatnya, soalnya emak manggil nama abang juga
“Oo,,, gimana ya, o abang coba tanyakan tiket pesawat dulu apa masih ada yang akan berangkat ke sana, tunggu bentar ya, nanti abang telepon lagi”
“Iya Bang”
Setelah aku sampai di kampung. Aku langsung masuk ke rumah dengan perasaan tidak menentu. Air mataku mengalir melebihi derasnya aliran sungai yang membentang di tanah Mandailing ini. Aku sangat prihatin dengan kondisi emak yang yang hanya bisa berbaring. Kupegang tangan emak. Kukecup kening emak. Akupun minta maaf karena terlambat datang. Butiran-butiran air hujan terlihat mengalir membasahi sudut mata emak, hujan hari ini tidak seperti hujan biasanya. Hujan hari ini memperlihatkan raut kebahagiaan dari sudut pipi emak. Mungkin emak bahagia ketika melihat buah hatinya memakai baju wisuda, yang belum sempat tadi aku lepas karena tergesa-gesa ingin ke kampung untuk memeluk emak.
Mak baju kehormatan wisuda ini Rahmat persembahkan untuk emak. Emak cepat sembuh ya”
“Iya nak, emak hari ini sangat bahagia sekali melihat Rahmat telah sukses”
Iya Mak, rahmat sangat sayang sama emak
 “Rahmat. Kalau nanti emak sudah tak ada lagi, jaga adik-adikmu ya Mak, sekolahkan mereka agar kelak mereka menjadi orang yang berguna bagi bangsa dan agama”
“Iya Mak
Tiba-tiba suasana hening, butiran mutiara kata tidak terdengar lagi dari lisan emak. Aku semakin tidak karuan. Lalu aku bertanya kepada dokter kenapa emak tidak bicara lagi, dokterpun memeriksa emak.
Inna Lillaahi wa Inna Ilaihi Raajiun, Emakmu telah pergi menghadap Sang Maha Kuasa, Rahmat” ucap dokter dengan perasaan terharu.
Emak... jangan tinggalkan kami Mak…”
Air mataku mengalir membanjiri kampung yang begitu hening. Tangisan alam turut mengantarkan kepergian emak menghadap sang Maha Kuasa. Inilah pertemuan terakhirku dengan orang yang paling aku cintai di dunia ini. Orang yang begitu tulus mencintai dan membesarkanku. “Selamat jalan Mak, semoga emak tersenyum di surga”.


SELESAI



BIODATA PENULIS


 Nama: Mustopa Kamal Btr
TTL: Bange, 28 Oktober 1992
HP: 0853 6369 9373 - 0877 6751 7060
Instagaram: @kamal_btr
Fb: Mustopa Kamal Btr
Twitter@mustopakamalBTR
Prestasi:
Juara 1 Cerdas Cermat Bhs. Indonesia (2005). Juara 3 siswa berprestasi (2004). Juara 1 cipta puisi (2012). Juara 3 baca puisi (2011). Juara 3 Syarhil Qur’an MTQ se-kab. Madina-Sumut (2012). Juara 1 Syarhil Qur’an MTQ pesantren Musthafawiyah Purbabaru (2013). Juara 2 pidato Bahasa Indonesia Pekan Olahraga dan Seni se-kab. Madina (2012). Juara 3 pidato Bahasa Indonesia Ulang Tahun 1 Abad Pesantren Musthafawiyah. Harapan 2 pidato Bahasa Arab se-kab. Madina (2012). Peserta festival Nasyid se-kab. Madina (2013). Peserta Debat Bahasa Indonesia Se-Prop.Riau (2014). Harapan II Pidato Bahasa Indonesia Se-Prop. Riau (2014). Juara I Lomba Menulis Surat Untuk Rektor UIN Sultan Syarif Kasim Riau (2014). Dan lain-lain.
Karya:
Jalan Berduri (Cerbung). Takdir Cinta (Cerpen). Melayuku (Cerpen). MTQ Galau (Cerpen). Jangan Paksa Aku Murtad (Cerpen). Sepotong Hati Untuk Tuhan (Cerpen).. Pengorbanan Bunda (Puisi). UIN Suska Riau (Puisi). Cinta Terpendam (Puisi). Jeritan Rakyat Jelata (Puisi). Kreatif menulis essai (Essai), Islam dan teroris (Opini). Dan lain-lain.



0 komentar:

Translate

Jumlah Pembaca

Instagram @kamal_btr