Info Penting Hari Ini !!!

Selamat Datang di KARYA KAMAL. Apa yang Sedang Sahabat Cari ??? Moga Blog Ini Bisa Membantu Sahabat Semua...!!! Kabar Gembira, Novel Sampan di Seberang akan segera dipublikasikan di blog ini agar para sahabat setia bisa menikmati karya yg pernah menang dalam kompetisi novel ini. Novel "Sampan di Seberang" diangkat dari kisah nyata pengalaman mengabdi di daerah terpencil. Novel "Sampan di Seberang" Tentang Pengabdian, Persahabatan & Kenangan, Tunggu Kehadirannya...!!! Karya Kamal; Novel Jalan Impian, Novel Pardangolan, Novel Sampan di Seberang, Buku Bait Bait Hati & Buku Facebook Mengguncang Dunia Akhirat. __Mustopa Kamal Batubara__ __Facebook: Mustopa Kamal Batubara.__ __Instagram: @kamal_btr.____Twitter: @mustopakamalBTR____Email: mustopakamalbatubara@gmail.com__ __Salam Karya Kamal__
Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 Mei 2016

Baju Batik Atuk di Petak Umpet
Cerpen: Mustopa Kamal Batubara


Lelaki itu tak hentinya memandangiku. Entah apa yang ada dalam benaknya. Mungkin ia tidak tahu kalau aku memperhatikan glagatnya ketika ia baru saja duduk di kursi berwarna abu-abu itu sedari tadi. Aku benar-benar tidak bisa fokus tuk mengalahkan motor-motor tangguh yang silih berganti meninggalkan kecepatanku. Aku nanti akan menyalahkan lelaki tua itu jika aku kalah pada permainan game balap motor di gadget yang baru dibelikan mama sebulan yang lalu ini.
Duduk di kursi ruang tamu sudah menjadi kebiasaan lelaki itu setiap malam. Setelah shalat maghrib, ia akan membawa secangkir teh dan beberapa potong roti. Tak lupa, koran yang belum selesai ia tammatkan pada siang harinya akan ia rampungkan tuk membacanya pada malam hari. Jika tumpukan koran itu telah selesai ia baca, selanjutnya ia akan menghidupkan tv yang tepat ada di hadapannya. Ia akan mematung di depan stasiun tv berita yang sepanjang hari akan menyiarkan berbagai peristiwa yang sedang terjadi di seantero negeri. Ia juga memang sangat hobi menonton berita, pun usianya sudah renta namun ia tidak mau ketinggalan info terkini.
Sorot mata lelaki itu mengantarkanku pada kekalahan permainan balap motor malam ini. Aku ingin sekali memarahinya. Ketika aku akan berubah jadi iblis garang yang akan mengancamnya, nalar telah terlebih dahulu menjadikanku sesosok malaikat yang sedang teringat akan semua kebaikan-kebaikan lelaki itu. Aku harus sabar. Aku tidak seharusnya melampiaskan rasa kesal kepada lelaki yang sudah di usia senja itu.
Entah kenapa tatapannya sedari tadi terhenti padaku, bukan pada koran yang sedang ia pegang. Apa perbuatanku ada yang salah hari ini ?. Aku rasa tidak. Atau ada yang ingin ia katakan ?. Kelihatannya tidak juga. Biasanya jika ada yang ingin ia katakan, pasti akan langsung ia ungkapkan tanpa harus menunggu aku selesai bermain game. Entahlah apa maksud sorot matanya yang penuh dengan tanda tanya.

***

“Udah selesai main gamenya Cu ?” ujar lelaki yang sedari tadi menatapku itu.
“Udah Tuk”
Atuk masih saja memandangiku.
 “Ada apa Tuk ?”
Atuk terdiam. Tatapannya kosong. Sorot matanya semakin tajam meluncur pada baju yang sedang kukenakan.
“Baju batik cucu Atuk ini siapa yang beli ?”
“Mama Tuk”
“O ya”
“Kapan mama beli ?”
“Tadi Tuk, selepas pulang dari kantor”
“Di mana ?”
“Di plaza”
“Ada apa Tuk, ada yang salah ?”
Atuk terdiam sejenak.
“Baju yang sedang Riki pakai ini mengingatkan Atuk pada masa 60 tahun silam”
“Maksud Atuk ?”
“Baju yang sedang Riki kenakan ini sama persis dengan baju Atuk dulu, itu baju favorit Atuk, dibelikan eyang buyutmu ketika Atuk juara kelas waktu SD. Baju itu juga merupakan baju yang paling sering Atuk gunakan ketika bermain petak umpet. Atuk rasa baju itu selalu membawa keberuntungan ketika bermain permainan tradisional itu. Atuk tidak pernah kalah. Atuk tidak pernah menjaga pohon petak umpet. Atuk serasa bermimpi ketika melihat baju yang Riki pakai. Ternyata di era modern ini masih ada baju batik yang sama persis dengan kepunyaan Atuk dulu”
“Oo, jadi itu sebabnya atuk memperhatikan Riki semenjak tadi”
Atuk tersenyum sumringah.
“Kata guru kesenian Riki di sekolah Tuk, suatu mode itu akan kembali populer secara berulang-ulang”
“Maksud cucu ?”
“Begini Tuk, apa yang pernah populer pada masa dulu akan kembali populer pada masa-masa tertentu. Jadi baju yang dibuat dengan mode tertentu pada zaman dulu akan kembali bisa populer pada zaman sekarang”
“Benarkah ?”
Aku mengangkukkan kepala.
 “Berarti petak umpet juga akan kembali populer suatu saat ?”
“Petak umpet ?”
“Iya”
“Riki tidak tahu kalau masalah itu Tuk”
“Kenapa tidak tahu ?”
“Riki tidak banyak tahu tentang petak umpet”
“Benarkah ?”
“Iya Tuk. Emangnya permainan petak umpet itu seperti apa ya Tuk ?”
“Petak umpet itu adalah salah satu permainan tradisional yang sudah mulai dilupakan”
“Benarkah ?”
Atuk menganggukkan kepala.
“Dulu, ketika semasa atuk, petak umpet merupakan salah satu permainan favorit para anak-anak seusia Riki di kota kita ini. Atuk juga sangat senang ketika ikut main petak umpet. Satu orang yang kalah akan menjaga pohon petak umpet, selainnya akan bersembunyi. Si penjaga pohon petak umpet akan mencari kawan-kawannya yang sedang bersembunyi di belakang rumah-rumah warga atau di balik semak-semak, sehingga setiap orang yang kedapatan terlihat di tempat persembunyian maka ia akan menjadi penjaga pohon petak umpet”
Atuk terlihat sangat terharu ketika menceritakan kisah permainan petak umpet itu. Airmatanya seolah ingin meluap namun ia tahan. Beliau menceritakan permainan tradisional itu dengan serius dan penuh keprihatinan.
“Kenapa sekarang permainan petak umpet tidak ada lagi di kota kita ini Tuk ?”
“Entahlah cucuku, Atuk juga kurang tahu. Mungkin anak-anak zaman sekarang lebih memilih main game dengan gadget”
Atuk berdiri dari tempat duduknya.
 “Tunggu di sini sebentar, Atuk ke Kamar dulu”
“Mau ngapain Tuk ?”
“Tunggu aja di sini, nanti cucu Atuk akan tahu”

***

Atuk keluar dari kamar. Beliau berjalan gontai menuju tempatku menunggu. Atuk menunjukkan baju batik kesayangannya dulu padaku. Memang sangat persis dengan baju yang sedang aku pakai sekarang. Warna, corak dan jenis sulamannya benar-benar tak ada bedanya, hanya saja baju batik Atuk ini sudah kelihatan mulai lusuh dimakan usia.
“Benar kan yang atuk bilang, bajumu sama persis dengan baju kesayangan atuk”
Aku menganggukkan kepala pertanda mengiyakan perkataan beliau.
Memori ingatan Atuk kembali terbawa pada masa silam. Atuk berkisah. Malam itu mereka beberapa sekawan sedang bermain petak umpet di halaman rumah. Tiba-tiba temannya yang bernama Hasan berteriak ketakutan ketika bersembunyi di belakang rumah yang agak gelap.
“Setan…” teriak Hasan, anak yang sangat penakut di masa itu, sembari berlari terbirit-birit.
“Mana setannya, agar kita cingcang ?” jawab Roni, kawan Atuk yang paling berani.
“Di sana tadi, di belakangku, pas waktu sembunyi”
“Ayo kita lihat”
“Kalian aja yang melihatnya, aku tak berani lagi”
“Dasar penakut kau Hasan”
Beberapa orang itu pun berjalan perlahan menuju tempat persembunyian Hasan tadi. Jika benar, mereka sudah tidak sabar lagi akan bertemu dengan setan yang dimaksud Hasan itu.
“Haha… Ada apa ?” ujar Atuk.
“Kata Hasan di sini tadi ada setan”
“Haha… mana ada, cuma aku aja tadi yang datang ke belakang Hasan, haha…”
Atuk tampak sangat bahagia bercampur haru ketika menceritakan kenangan hidupnya yang takkan terlupakan itu.
Sesaat kemudian suasana senyap. Entah kenapa raut ceria wajah Atuk tiba-tiba berubah drastis menjadi seolah memperlihatkan perasaan tidak karuan. Mungkin beliau merasa sudah penat senyam-senyum sedari bercerita kisah ketika bermain petak umpet dulu atau ?. Entahlah.
 “Atuk, aku juga ingin suatu saat nanti bisa membawa baju batikku ini bermain petak umpet seperti yang pernah Atuk lakukan dengan baju batik Atuk dulu”
 “Benarkah ?”
“Iya tuk, benar, benar, benar”
 “Kalau begitu, Atuk akan berdoa agar diberikan umur panjang, hingga suatu saat kelak Atuk bisa melihat cucu kesayangan ini bermain petak umpet”



Selesai

Jumat, 05 Februari 2016



Si Bayo Batu
Cerpen Mandailing: Mustopa Kamal Batubara


Taridama opat daganak markaleren i alaman ni bagas na marcet na rata ombun i. Bope i  toru ni arilas, sai totop do sonang roha ni alai. Maso daganak mantong tie, maso atagianna i marmayam, maso na so tarlupahon, maso na paling sonang di hangoluan on. Inda unjung marsak songon marsak ni pangguris di atia udan.
“Batu, idia ayak ?” jou-jou sada bayo ngon julu ni daganak na atia markaleren i.
Daganak na opat on antong heran kalai mangaligi bayo naso binoto sanga ise na ijouon nia i. Perasaan ni alai nga dong na margoar si batu i antara ni alai na opat. Goar ni alai na opat si Hamid, si Lian, si Togop dot si Sein do. Bo aso ntong nga heran kalai mangaligi bayo na tibo-tibo mungkap ngon julu i.
“Ulang ligi homu, ompot na si gotap ulu do” ning si Lian tu dongan nia na tolu alak i.
“Si gotap ulu mei ntong arian. Bo ra mei” ning si Togop.
“Ra doba i” jawab ni si Lian mangalusi obar ni si Togop.
“Ho do rangku Hamid na imaksud ni udak i, harana ho do u ida na iligi ia. Alusima soni get tolap ma ia tu son bo” ning si Sein.
“Nga jau ba i, ompot naso au do ramu, maila au non” jawab si Hamid.
“Yakin au ho dei, sapai jadi” ipakuat si Sein hata nia na parjolo i.
“Olo ho mada. Ho do anak ni si Jaringgas kan, nampuna bagas on ?” ning bayo i tu si Hamid.
“Olo udak. Mua langa udak ?”
“Adong na porlu. Idia langa ayahta ?”
“O, na dompak i saba dope udak”
“Pasampe non tu ayak, bahasona na ijalaki udak da. Dokon, udak Jalandit nimu da”
“Olo udak”
Bayo ipe langsung ma kehe mulak tu arah julu. Di hakehean nia i, maninggalkon parsapaan na sangat godang i bagasan roha ni si Hamid. “Aso ipio udak i nangkin au si Batu. Iambang ia do na so dong jiba otak, isarupoon ia iba dohot batu na i batang aek an. Na jahat ma u ida bayo i” ning si Hamid i bagasan ate-ate nia.
***
Ipadonok si Hamid tu aya nia na atia juguk di pantar tonga i. Tarida do i boi ni aya nia na loja i karejo sasadari isabaan nangkin. Sabotulna inda na sampe hati ia mangganggu ayah nia na atia mambaca buku tuntunan sholat i. Tai bia baenon, tona ni alak wajib isampeon.
“Ayak, na mua do ayak i ?”
“Dompak mambaca buku tuntunan sholat amang. Mua langa ?”
“Songonon Yak, nangkin ro udak-udak manjalaki ayak. Pala nga sala au nangkin udak Jalandit goarna”
“O, mua buse langa ning udakmu ?”
“Adong ningia na porlu, ima so ijalaki ia ayak”
“O, udakmu ntong na porlu sajo dei ningia sude. Diarma bope naron doma iligi ayak ia tu lopo i”
“Salain i, adong dope ?”
“Inda be Yak, tai tarmilas nangkin roangku na ro i udak i”
“Bo, mua buse langa. Aha na masa na muba ?”
“Ipajat-jat udak i nangkin goarku, idokon ia au nangkin batu, nga u alusi ntong, iambang ntong naso iba na ipio nia i. Iambang ia do ntong sarupo iba dot batu na i batang aek an. Na maloma u ida udak i paila-ila alak, maila doma iba tu dongan-dongan niba i”
“Hehe… nga baen na ipajat-jat nia dabo ho amang i. baen jop ni roa nia dei tu ho. Ipio ia ho si Batu baen na Batubara i dei margamu”
“Maksudna Yak ?”
“Songonon, pala Batubara marga niba, pamioan niba si bayo Batu mei. Pala Nasution, pamioanna manjadi si bayo Suti. Pala Hasibuan, pamioanna manjadi bayo Buan. Pala Siregar, pamionna manjadi si bayo Regar”
“O, Pala Lubis Yak ?”
“Pala Lubis, pamioanna les si bayo Lubis”
“O, baen na songoni do yak i ?”
“Olo amang”
Taridama i boi ni si Hamid tanda na madung mangarti maksud ni si Jalandit i. Mikim-mikim ia mambege panjelasan ni aya nia i. Songon na marsala ilala ia tu si Jalandit baen na dung sala sangka i ia nagkin. I niatkon ia i bagasan ni roha nia nangkan mangido moof pala pasuo dot bayo na manjalaki aya nia i di amilasan ni ari nangkinan.
“Ido maksudna. Ooo” ning si Hamid.
“Oooo, ibuuul. Hehe…” ning bayo na manjelaskon maksud ni si Jalandit i.

Minggu, 13 Desember 2015

Siluet Ayah
Oleh: Mustopa Kamal Batubara


Pintu-pintu tamu tertutup sudah. Kelam semakin merekah. Suara jangkrik saling bersahutan tak kenal lelah. Tangan-tangan alim menengadah, berharap keluar dari cengkraman susah.
***
“Kapan pulang Nak ?”
“Maaf Yah, Hamid belum bisa pulang karena masih kuliah”
“Ya sudah, ayah mendoakan kamu agar kelak jadi orang sukses”
Aku terbangun. Kupandangi jam yang menempel di dinding kos, jarumnya tepat mengarah ke angka dua. Entah kenapa ayah tiba-tiba menyuruhku pulang dalam mimpi dini hari ini. Degup jantungku kian kencang. Berbagai soal tanpa jawaban menggrogoti benakku.
Akhir-akhir ini seorang yang kukagumi itu selalu lalu-lalang melintasi jalan khayalku. Sosok itu bak kunang-kunang. Terkadang tampak jelas, namun dengan cepat akan menghilang dari pandangan. Siluet itu selalu datang merasuki jasadku, lalu ia pergi begitu saja. Nalarku buntu tuk menangkap pesan yang hendak disampaikannya.
“Hamid sedang apa ?” ujar temanku Syukron yang tiba-tiba menghampiriku di dalam kos.
“Eh.. Syukron. Tidak ada Ron, hanya lagi duduk-duduk saja”
“O. Kelihatannya kamu lagi ada masalah ya ?”
“Iya Ron. Akhir-akhir ini perasaanku aneh sekali. Entah kenapa, padahal aku tidak biasanya seperti ini”
“Aneh, maksud kamu ?”
“Akhir-akhir ini aku sering bermimpi dan teringat sama ayahku di kampung”
“O. Mungkin karena kamu lagi kangen sama beliau Mid”
“Entahlah Ron, aku juga kurang paham”
“O. Sebentar lagi kan kita sudah libur semester genap. Nanti kan bisa pulang kampung, biar kumpul lagi sama keluarga. Kalau jurusan kami ujian tinggal satu hari lagi Mid, jadi lusa udah bisa pulang. Kalau jurusan Hamid emang ujiannya berapa hari lagi ?”
“Satu minggu lagi Ron.”
“Selepas itu sudah bisa pulang kan ?”
“Aku tidak pulang Ron”
“Kenapa Mid ?”
“Aku tidak diizinkan atasanku libur kerja. Bahkan waktu libur kuliah nanti jadwal kerjaku semakin padat. Maklumlah Ron, kamu kan sudah tahu bagaimana agar aku bisa tetap bertahan kuliah”
“O. Iya Mid aku paham kok, perjuanganmu kelak pasti berbuah manis. Ngomong-ngomong nanti Hamid ada pesan nggak yang mau disampaikan sama keluarga di kampung ?”
“Iya Ron, nanti malam saja aku tulis di surat”
“O, oke Mid”

Pekanbaru, 10 November 2015

Kepada yang luar biasa,
Ayah di Bange Malintang, Mandailing.

Assalaamu ‘Alaikum Wr. Wb...
Sebelumnya Hamid mendoakan semoga ayah di kampung senantiasa diberi Allah kesehatan dan umur panjang, agar suatu saat nanti kita bisa merasakan kebahagiaan hidup yang sesungguhnya.
Di sudut malam ini, kugoreskan pena di lembaran putih dengan perasaan tidak menentu, ada perasaan bahagia karena aku bisa menyampaikan curahan hati melalui surat kecil ini, ada juga perasaan was-was karena akhir-akhir ini ayah selalu hadir dalam alam bawah sadarku. Tapi Yah, itu mungkin hanya sekedar halusinasiku.
Ayah. Tahukah ayah, ini adalah surat pertamaku, yang khusus Hamid persembahkan sebagai tanda cinta dan rindu. Apakah ayah tahu juga, ketika menulis surat ini Hamid berusaha menahan linangan air mata, paling tidak sampai Hamid selesaikan tulisan ini. Tapi mata ini berontak Yah, akhirnya air kubiarkan mengalir menganak sungai meluap melewati sudut pandangan.
Ayah. Engkaulah satu-satunya lelaki yang mencintaiku tanpa syarat, yang setia menjaga dan menuntunku sepanjang hayat. Engkau yang mengingatkan ketika aku terlupa, engkau yang yang mensehati ketika aku tersalah dan engkaulah yang selalu menghiburku di waktu gundah.
Masih teringat jelas dalam rekaman ingatanku momen-momen indah dulu. Saat adzan shubuh berkumandang, engkau selalu menuntunku tuk tunaikan kewajiban kepada tuhan. Saat senja menyapa alam aku selalu kau dudukkan di pangkuanmu sembari mengajariku lantunan ayat-ayat tuhan. Saat malam menjelang engkau selalu menemaniku dan menceritakan dongeng sampai aku terlelap lugu. Ayah, semua kenangan indah itu terasa baru saja berlalu dan masih tampak nyata dalam bingkai rinduku. Hamid yakin ayah juga masih mengingat hari-hari indah yang tak terlupakan itu.
Ayah. Maafkan kenakalanku yang dulu, yang terlalu egois dan bertindak sesuka hati karena keinginanku yang tidak ayah turuti. Di saat itu aku iri kepada teman-teman yang lain, ketika melihat mereka dibelikan mainan oleh ayahnya, sedang aku tidak. Tapi sekarang hamid telah sadari ayah, bahwa kehidupan kita tidak sama dengan teman-temanku itu. Orangtuanya pegawai berdasi, sedangkan kita hanyalah buruh kehidupan yang selalu merajut asa di atas lahan orang. Mungkin itulah sebabnya, ayah tidak bisa mengabulkan semua keinginanku yang berlebihan ketika itu. Sekali lagi maafkan anakmu yang nakal ini ayah, karena pada saat itu hamid belum paham akan arti sebuah kehidupan.
Ayah. Aku sangat mengagumi pengorbanan dan perjuanganmu. Setiap hari engkau selalu banting tulang. Di pagi buta, ketika semua orang masih terlelap dalam buaian tidur, engkau sudah bersiap-siap menuju ladang harapan, dengan penuh asa engkau hentakkan kaki meninggalkan rumah, demi mencari sesuap nasi tuk penyambung nyawa dalam hidup ini.
Ayah. Kini aku telah dewasa, sedang berlari mengejar cita-cita. Tahukah ayah, anakmu ini akan selalu bersungguh-sungguh dalam menyelami lautan ilmu di sudut kota bertuah ini. Yah, tidak jarang pula badan ini bermandikan keringat untuk mencari uang kuliah ketika libur tiba. Biarlah Hamid rasakan tanggung jawab yang pernah ayah pikul, asal beban di pundak ayah tidak semakin bertambah.
Ayah, Hamid ingin suatu saat nanti bisa melihat ayah tersenyum bahagia ketika melihatku memakai toga wisuda. Hari ini juga telah aku buktikan Yah, bahwa anak seorang buruh kehidupan juga bisa mengenyam bangku perkuliahan. Walaupun dulu semua orang kampung berkata kepadaku mustahil bisa sekolah tinggi, berkat motivasi ayah aku bisa menjadi manusia yang tegar dalam melewati semak belukar.
Ayah. Hamid tahu keringatmu di kampung sedang menantikan keberhasilanku. Terimakasih Yah, atas semua perjuangan dan pengorbanan yang telah engkau persembahkan bagiku. Terakhir terucap salam cinta dan doa dari anakmu yang sedang melayari samudera ilmu di rantau. Semoga ayah selalu dalam lindungan Allah dan diberikan kekuatan oleh-Nya, agar suatu saat nanti kita bertemu dan bisa merasakan kebahagiaan hidup bersama-sama.

Anakmu tercinta
Abdul Hamid

Batinku sedikit tenang setelah mencurahkan isi hati dalam lembaran-lembaran putih itu. Setidaknya surat yang kutulis dalam secarik kertas itu mampu menyatukan rinduku kepada orangtua sematawayangku itu, seorang lelaki sekaligus sebagai sosok seorang ibu setelah kepergian wanita yang melahirkanku sepuluh tahun lalu.
 “Assalamu ‘alaikum, Syukron”
“Walaikum salam. Ada apa Mid ?”
“Ini Ron, aku mau mengantar surat yang mau dititip ke rumah”
“O, iya Mid”
“Kapan jadi pulang Ron ?”
“Insyaallah nanti malam Mid”
“O, sebelumnya terimakasih banyak ya Ron. Selamat jalan aja, semoga nanti selamat sampai tujuan”
“Oke Mid, terimakasih atas doanya”
***
Lelaki muda itu tampak mendekatiku yang sedang membaca buku di teras kos. Sekilas kupandang, sosoknya tidak asing bagiku. Akupun menjatuhkan mata dalam setiap hentak kakinya. Semakin ia mendekat semakin jelas bagiku bahwa dialah teman yang kuberi amanah tuk menyampaikan surat kepada ayah di kampung satu bulan yang lalu.
 “Apa kabar Mid ?”
“Alhamdulillah kabar baik. Kapan sampai ke Pekanbaru ini Ron?”
“O, tadi pagi kawan”
“O. Surat yang aku titip sudah Syukron kasi?”
“Iya Mid, surat yang kamu titip kemarin sudah aku berikan ke pamanmu”
“Ke paman ? kenapa bukan ke ayah Ron ?” jawabku penuh tanda tanya besar dalam hati.
 “Sebenarnya begini Mid, ayahmu di kampung sedang sakit parah. Ketika aku datang ke rumahmu beliau sedang tidak sadarkan diri. Kata pamanmu sudah satu bulan terakhir ini beliau hanya bisa berbaring di ranjang, kaki beliau mengalami kelumpuhan. Entahlah apa penyebabnya Mid, pamanmu juga katanya kurang tahu”
Serasa bumi runtuh menimpa tubuhku yang kerdil, aku terkapar antara pingsan dan sadar. Nalarku tak berkutik. Aku mencoba tuk berdiri dari puing-puing reruntuhan. Dengan merangkak, kususuri jalan panjang menuju masa lalu. Kulepaskan semua asa yang hendak menghampiriku. Tanpa pikir panjang, akupun pulang.






Rintihan Siang
Cerpen: Mustopa Kamal Batubara


 Senja menghilang. Malam terkembang. Lampu-lampu jalan menghiasi kelam. Perempuan-perempuan jalang berkeliaran dari kandang. Terpasang senyum merekah di balik lidah. Untaian kata mengecup mesra. Lelaki hidung belang terawang-awang.
“Berapa cantik ?” tanya seorang pria yang sedang berbicara dari dalam mobil berwarna hitam.
“Buat om satu juta saja”
“Itu terlalu mahal. Om hanya bawa uang lima ratus ribu”
“Tambah dua ratus ribu lagi, biar sama-sama oke”
“Uang om hanya segini lagi. Kalau kamu mau, tambahnya besok om berikan”
“Oke om”
Pria hidung belang dan gadis jalang itu terlelap dibuai malam.
***
Perempuan paruh baya itu tidak bisa tidur. Ia mondar-mandir di ruang tengah rumah. Ia takut jika terjadi sesuatu hal terhadap putri sematawayangnya. Nalarnya bercabang. Ia tidak tahu lagi harus berbuat apa pada seperdua malam itu. Kakinya letih karena terlalu lama berdiri. Iapun duduk di bangku kayu dekat pintu. Dipandanginya jarum jam yang semakin keras terdengar dawai malamnya.
“Kamu dari mana saja Cika ?” ujar perempuan itu saat melihat putrinya masuk tanpa salam.
“Dari tempat teman Bu” jawab gadis itu berusaha berbohong.           
“Setiap malam ke rumah teman ?”
“Ibu tidak usah banyak bertanya. Cika sudah dewasa”
“Maksud kamu ?”
“Sudahlah Bu, Cika mau tidur”
“Cika… dengarkan perkataan ibu. Ibu tidak pernah mengajari kamu seperti ini. Apa kamu tidak malu sama tetangga, setiap hari pulang tengah malam begini ?”
“Biarkan saja mereka berkata apa. Tahu apa mereka tentang kita. Kita juga tidak pernah mengusik kehidupan mereka”.
Cika berlalu ke kamar.
***
Siang yang menggerahkan. Tidak ada keteduhan. Kata-kata tak bertuan membisingkan. Ingin sekali ibu Cika menutup telinganya ketika hendak ke warung itu membeli keperluan rumah. Ia memang sudah tahu kalau ibu-ibu tetangganya itu pasti akan selalu menanyakan keberadaan Cika ketika di warung.
“Bu si Cika sudah tidak di sini lagi ya ?” ujar salah seorang wanita yang sedang membeli sayur-mayur.
“Dia ada di rumah. Ada apa Bu ?” kata ibu Cika dengan nada letih menjawab pertanyaan yang selalu diulang-ulang ketika ia sedang berbelanja di warung itu.
“Owh.. tidak ada kok, cuma bertanya saja”
“Kelihatannya dia jam segini tidak pernah keluar rumah ya ?” ujar perempuan lain yang sedang membeli beras.
“Jam segini dia biasanya masih tidur Bu”
“O. Cika sering pulang tengah malam ya. Memang sekarang dia kerja apa ya ?”
“Tidak ada Bu. Dia masih kuliah. Dia dari rumah temannya kalau malam”
“Setiap hari ke rumah teman ?”                                                               
“Sudahlah Bu, saya pamit duluan ya. Nanti saya takut Cika mencari saya”
Ibu Cika berlalu dengan hati diiris sembilu.
***
Desas-desus di warung itu hampir saja membuat tekanan darah ibu Cika naik. Ia tidak mau berlama-lama di tempat itu. Ia takut sewaktu-waktu penyakitnya kambuh dan membuat dirinya nekat berbuat hal-hal yang tidak diinginkan. Dulu sewaktu muda hampir saja ia mencekik leher seorang perempuan yang diduga selingkuh dengan almarhum suaminya. Kalau saja dulu suaminya tidak melerai keributan itu dengan cepat, mungkin hidup perempuan itu akan berakhir di tangannya.
“Ibu dari mana ?” ujar Cika menghentikan langkah perempuan itu. “Kelihatannya ibu sedang marah ?” Cika berusaha mengetahui perasaan ibunya.
“Bagaimana tidak marah, semua ibu-ibu di perumahan ini sudah tahu kalau kamu selalu pulang malam”
“Lantas apa kata mereka tentang Cika Bu ?”
“Tanyakan saja sama mereka langsung. Kamu sudah jadi bahan gunjingan penduduk di perumahan ini. Ibu malu. Ibu tidak tahu lagi harus menyembunyikan muka kemana”
“Ibu tidak usah mendengar mereka. Mereka pasti iri kalau melihat Cika bahagia”
“Maksudmu ?”
“Sudahlah Bu. Ibu tidak usah mendengar perkataan mereka”
***
Gunjingan telah membuat ibu Cika buta mata. Ia menyusuri kelam malam. Mencari tahu sebuah kejanggalan. Dengan langkah renta, ia menyalip mobil-mobil yang sedang melintas di jalan raya pinggiran kota itu. Di depannya tampak perempuan-perempuan binal yang sedang menjajakan diri kepada lelaki pemuja syahwat. Pandangannya tertuju pada seorang gadis yang sedang memakai baju kuning berdiri di samping mobil yang sedang berhenti.
“Cika..”
“Ibu ?” Cika terheran melihat ibunya datang ke tempat stasiun nafsu itu.
“Lain kali saja ya. Om tidak mau ikut campur urusan keluargamu” lelaki hidung belang itupun membatalkan proses tawar-menawar yang sedang mereka lakukan.
“Apa yang kamu lakukan di tempat terlaknat ini hah ?”
“Ibu ada apa ke sini ?. Membuat malu Cika saja”
“Apa kamu bilang, malu ?. Seharusnya kamu yang malu jadi perempuan murahan seperti ini”
***
“Kenapa kamu harus melakukan ini semua Cika ?” ujar perempuan yang telah lama ditinggal mati suaminya itu. Suasana hening. Ia lanjut berbicara. “Warisan peninggalan ayahmu masih cukup Nak tuk membelanjai kebutuhan kita sehari-hari”.
Gadis itu hanya membisu. Mukanya masam.
“Kalau saja ayahmu masih hidup, pasti beliau akan marah melihatmu seperti ini”
“Aku mau pergi saja dari rumah ini, biar tidak ada lagi yang mengusik hidupku”
Gadis itu segera mengkemas barangnya. Baju, sandal dan alat-alat rias ia bawa semua. Ia berlalu meninggalkan airmata ibunya.
***
Dua hari ini gadis itu merasa aneh sekali. Tubuhnya kaku. Demam. Batuk. Mual. Sakit kepala. Perasaannya tak menentu. Tidak bisa konsentrasi. Bintik-bintik hitam kemerah-merahan tiba-tiba menjamur di sekujur tubuhnya. Kulitnya mengelupas. Ia tidak tahu sakit apa yang sedang menimpanya.
 “Setelah diperiksa, anda positif sedang mengidap penyakit HIV” ujar dokter muda itu.
“Apa dok, HIV ?” Cika kaget.
“Iya. Anda Positif HIV” dokter itu kembali menguatkan perkataannya.
Gadis malang itu pulang dari rumah sakit ditemani temaram. Langkahnya gontai meratap bumi. Ia telah dikhianati malam. Malam pergi menghilang. Hanya ada siang panjang dihiasi rintihan.



Translate

Jumlah Pembaca

Isi Karya Kamal

Instagram @kamal_btr