Karya: sutardji
calzoum bahri
Sedalam-dalam
sajak takkan mampu menampung airmata bangsa
Kata-kata
telah lama terperangkap dalam basa-basi,
Dalam ewuh
pekewuh, dalam
isyarat dan kilah
tanpa makna
Maka aku
pun pergi menatap pada wajah orang berjuta
Wajah
orang jalanan yang berdiri satu kaki dalam penuh sesak bis kota
Wajah
orang tergusur, wajah yang
ditilang malang
Wajah
legam pemulung yang memungut remah-remah pembangunan
Wajah yang
hanya mampu menjadi sekedar penonton etalase indah di berbagai plaza
Wajah yang
diam-diam menjerit, melengking, Melolong
dan mengucap:
Tanah air
kita satu
Bangsa
kita satu
Bahasa
kita satu
Bendera
kita satu
Tapi wahai
saudara satu bendera,
Kenapa kini ada
sesuatu yang terasa jauh beda di antara kita?
Sementara
jalan-jalan mekar di mana-mana menghubungkan kota-kota,
Jembatan-jembatan tumbuh
kokoh merentangi semua sungai dan lembah
yang ada.
Tapi
siapakah yang mampu menjembatani
jurang di
antara kita?
Di
lembah-lembah kusam pada pucuk tulang kersang
dan otot
linu mengerang
Mereka
pancangkan koyak-moyak bendera hati
Dipijak
ketidakpedulian pada saudara
Gerimis
tak mampu menguncupkan kibarnya.
Lalu tanpa
tangis mereka menyanyi:
Padamu
negeri
Airmata
kami
1 komentar:
pemilihan katanya sangat keren
Posting Komentar