Info Penting Hari Ini !!!

Selamat Datang di KARYA KAMAL. Apa yang Sedang Sahabat Cari ??? Moga Blog Ini Bisa Membantu Sahabat Semua...!!! Kabar Gembira, Novel Sampan di Seberang akan segera dipublikasikan di blog ini agar para sahabat setia bisa menikmati karya yg pernah menang dalam kompetisi novel ini. Novel "Sampan di Seberang" diangkat dari kisah nyata pengalaman mengabdi di daerah terpencil. Novel "Sampan di Seberang" Tentang Pengabdian, Persahabatan & Kenangan, Tunggu Kehadirannya...!!! Karya Kamal; Novel Jalan Impian, Novel Pardangolan, Novel Sampan di Seberang, Buku Bait Bait Hati & Buku Facebook Mengguncang Dunia Akhirat. __Mustopa Kamal Batubara__ __Facebook: Mustopa Kamal Batubara.__ __Instagram: @kamal_btr.____Twitter: @mustopakamalBTR____Email: mustopakamalbatubara@gmail.com__ __Salam Karya Kamal__

Selasa, 01 April 2014


 CERPEN INI SAYA TULIS KETIKA MENGIKUTI LOMBA CERPEN BERTEMA "BUDAYA MELAYU" DI UIN SULTAN SYARIF KASIM PEKANBARU. SEMOGA BERMANFAAT...!!!!!
 
BUDAYA MELAYU DI GENERASIKU
Oleh: Mustopa Kamal Btr


Pada senin yang cerah ketika panas mulai membakar kulit, sekitar pukul sebelas siang aku berjalan di bawah terik mentari yang sedang marah, aku susuri jalan buluh cina yang begitu menyesakkan dada. Aku berjalan dengan hati-hatinya di pinggiran mobil dan motor yang sedang lalu-lalang, perlahan-lahan aku ikuti hentakan kaki menuju kampus, tempat kuliahku.
Universitas Islam Negeri Sultan Syarif kasim Riau inilah kampusku, salah satu universitas termegah yang ada di bumi pertiwi dan menjadi salah satu universitas dengan jumlah mahasiswa terbanyak di negeri Indonesia ini. Tidak kurang dari dari 26.000 mahasiswa dari berbagai penjuru negeri berdatangan ke sini untuk menimba ilmu, namanya diambil dari nama sultan ke-12 kerajaan Siak Sri Indrapura.
Tidak terasa aku sudah sampai di depan gedung belajar fakultas syariah, aku melaju diiringi hentakan kaki, perlahan-lahan aku naiki anak tangga menuju lantai dua. Di lantai dua mataku tertuju ke ruang 10, ya hari ini kami belajar di ruang belajar syariah 10. Aku berhenti sejenak melihat pintu yg ditutup, lalu ku ketuk pintu sembari mengucap salam “Assalamu ‘Alaikum” lalu temanku Rahman membukanya sekaligus menjawab salamku “Wa’alaikum salam silahkan masuk mal”.
Mal atau kamal inilah nama panggilanku, nama lengkapku adalah Mustopa Kamal, nama yang diberikan kedua orangtuaku delapan belas tahun silam, aku berasal dari desa nan jauh di pedalaman Bengkalis dan aku adalah anak pertama dari empat bersaudara. Aku melangkah menuju bangku, terlihat di depanku tiga teman lain sedang asyik-asyiknya bernyanyi diiringi musik dari HP Nokia yang ada di tangan salah seorang dari mereka, “Lagi ngapain teman-teman?” inilah ungkapan yang aku ucapkan ketika sedang menyapa mereka, lalu mereka menjawab dengan acuhnya “lagi nyanyi” kemudian aku menuju tempat duduk.
Suara bising menyelinap di telingaku, hatiku sontak miris setelah memperhatikan lagu-lagu yang mereka nyanyikan, ternyata mereka menyanyikan lagu yang tidak sesuai dengan budaya dan agama kami, mereka menyanyikan lagu bergenre cinta yang liriknya sangat vulgar dan tidak sesuai dengan budaya kami, budaya melayu. “Peluk erat tubuh ku sentuhlah jemariku......” inilah penggalan lagu yang mereka nyanyikan dengan girangnya, setelah lagu itu habis silih berganti lagu sejenisnya, sambung menyambug mereka putar dan mereka nyanyikan, ekspresi mereka juga tidak mencerminkan dirinya sebagai anak melayu yang memegang teguh adat dan budayanya. Hatiku miris bak disayat sembilu, seolah langit menimpa diriku. Kemudian aku keluar dari ruangan itu  lalu temanku Rahman menyapaku “Mau kemana mal ?’’ tanya rahman , mau keluar dulu man di sini gerah, jawabku.
Mataku tertuju ke tiang di sudut teras kelas, lalu aku berdiri sambil termenung, pikiranku di bayang-bayangi prilaku teman-temanku di dalam kelas tadi. Hati kecilku bertanya-tanya apa benar mereka telah terhanyut oleh arus zaman, yang mungkin derasnya melebihi arus sungai siak di sudut kota bertuah ini, sehingga mereka telah melupakan adat dan budaya melayu adat yang santun yang identik dengan nilai-nilai keislaman.
Tiba-tiba Sabil datang menghampiriku ia adalah kosma kami, “Gimana kabarnya mal, apa akhir pekannya menyenangkan?” tanya sabil, “Alhamdulillah baik bil, akhir pekannya lumayan menyenangkan melang-lang buana ke dunia maya mencari merpati ilmu hehe...” jawabku sambil bercanda. Ya akhir pekan biasanya aku manfaatkan ke warnet samping kos ku untuk menyelesaikan tugas-tugas kuliah, aku tidak bisa seperti teman-teman yang lain pergi jala-jalan kalau akhir pekan tiba, karena uangku hanya pas-pasan untuk makan sedangkan untuk uang kuliah aku harus banting tulang, mengangkat-angkat beras dari mobil truck  ke warung pak Dahlan samping kosku, apabila kami sedang tidak masuk kuliah. Aku tidak mau menyusahkan kedua orangtuaku di kampung, karena orangtuaku hanyalah seorang buruh kehidupan.
Kemudian aku bertanya kepada Sabil “Sabil kok bapak dosen lama datang ya?”, “Enggak tau mal soalnya semalam bapak tu udah aku telpon, apa hari ini kita masuk kuliah atau nggak, tapi nomor HP bapak itu nggak aktif mal”. Kadang kala sang dosen tidak bisa masuk di karenakan tugas dari kampus, dan itulah tugas seorang kosma menghubungi sang dosen untuk menanyakan masuk kuliah atau tidak.  Lalu kosma mengeluarkan HP dari sakunya dan kembali menelpon bapak Ismardi dosen mata kuliah Fiqih kami, “Assalamu ‘alaikum hallo pak, ini kosma jurusan Jinayah Siyasah pak, mau menanyakan apa hari ini kita masuk kuliah pak?” demikian ucapan kosma yang aku dengar. Sesudah Sabil selesai menelpon bapak dosen, lalu ia mengatakan  bahwa hari ini bapak Ismardi tidak bisa masuk disebabkan sedang tugas di luar kota, lalu Sabil mengumumkan kepada teman-teman yang lain bahwa hari ini kami tidak masuk.

Aku turuni satu persatu anak tangga menuju lantai bawah, hentakan kaki mengarahkanku ke bawah pohon mungil di depan gedung belajar, aku putuskan pulang dengan naik angkot disebabkan matahari yang semakin marah dan cuaca yang tidak mau bersahabat dengan setiap insan pada pukul dua belas siang ini. Aku duduk pas di belakang sopir, lagi-lagi hatiku sontak kaget mendengar lagu yang sedang diputar, “Ku hamil duluan sudah tiga bulan gara-gara pacaran di gelap-gelapan.....”. Hati kecilku pun kembali bertanya “Apa benar budaya barat telah merasuki budaya bangsa ini, sehingga kata-kata yang tak senonoh telah dijadikan sebagai lirik lagu di negeri mayositas berpenduduk Muslim ini. Anak bangsa telah menenggelamkan budayanya sendiri yaitu budaya orang timur, lagu-lagu bergenre kebarat-baratan gembar-gembor diperdengarkan, sedangkan budaya sendiri seolah terusir dari negeri sendiri.
Saat ini lagu bergenre budaya melayu sangat jarang terdengar di kota bertuah, Pekanbaru ini. Sama halnya seperti sulitnya menemukan air di tengah gurun pasir. Generasi muda lebih mengenal Justin Bieber dari pada Raja Ali Haji seorang sastrawan melayu yang terkenal dengan gurindam dua belasnya. Generasi muda lebih hafal lirik lagu Michael Jackson dari pada lirik lagu melayu. Beginilah kondisi kebudayaan melayu di generasiku ini, generasi dimana aku hidup sekarang. Aku tidaklah menyalahkan apabila generasi muda cinta kepada budaya orang lain akan tetapi kecintaannya tersebut jangan sampai melebihi cintanya kepada budaya sendiri.
Tidak terasa angkot yang aku tumpangi sudah mendekati kos tempat tinggalku, “Berhenti di sini pak” pintaku kepada sang sopir, lalu aku mengambil uang yang ada di saku celanaku untuk ku berikan kepada sang sopir. Inilah tempat tinggal ku, kos yang sangat sederhana, barang elektronik seperti TV, kipas angin, tidak akan kita lihat di dalam gubuk derita ini. Apalah daya tinggal di kos mewah dengan fasilitas lengkap, aku hanyalah seorang budak (anak) miskin yang berasal dari desa nan jauh di pedalaman Bengkalis sana, yang sengaja datang ke Kota bertuah ini untuk merajut asa dan meraih cita-cita.
 Seiring dengan ku gantungkannya tas di sudut ruangan, terdengar olehku kumandang adzan zuhur membahana menembus ruang angkasa. Aku melangkah ke kamar mandi untuk berwudhuk, ku basuh wajahku dengan air nan suci, aku berharap air ini akan jadi saksi amal-amalku disaat menghadap sang Rab di akhirat kelak. Kemudian aku mengerjakan shalat zuhur empat rakaat, setelah selesai ku tadahkan tanganku dan berdoa kepada sang Khalik “Ya Allah ya tuhanku ampunilah dosa-dosaku dan dosa-dosa kedua orangtuaku, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku di waktu kecil. Ya Allah kabulkanlah cita-citaku, jadikanlah aku orang yang sukses di suatu hari nanti. Ya Allah jadikanlah generasi muda kami menjadi orang-orang yang mencintai budayanya sendiri, dan jauhkanlah kami dari budaya yang tidak sesuai dengan agama Islam ini. Ya Allah perkenankanlah doaku, hanyalah engkau ya Allah yang maha kuasa atas segalanya. Rabbanaa aatinaa fid dunya hasanah wa fil aakhiroti hasanah wa qina ‘adzabannar. Aamiin.......”
Hati begitu tenang setelah selesai mengerjakan shalat, tiba saatnya untuk makan siang. Ku ambil piring dan nasi yang telah aku masak tadi pagi, dengan ucapan Bismillah aku makan nasi dengan lauk apa adanya. Setelah selesai makan, mataku tertuju kepada buku yang ada di sudut ruangan, yaitu sebuah buku pemberian dari salah seorang dosenku dua hari yang lewat. Buku ini sangat bagus, karena berisi tentang motivasi dan semangat hidup.
Tidak terasa buku sudah aku baca sampai halaman lima puluh, rasa lelah mulai mendera. Ku tutup buku, kemudian ku rebahkan sekujur tubuh ke tempat tidur, sambil berbaring ku putar lagu melayu dari handphone. “Lancang kuning, lancang kuning belayar malam, hai berlayar malam......” inilah penggalan lirik lagu yang menjadi pengantar tidurku di siang hari ini. aku pun tidur dengan nyenyaknya.
Aku terbangun dari lelapnya tidur ketika jarum jam sudah menunjukkan pukul 16.00. Ku buka pintu rumah, ku pandangi jagat raya, terlihat mendung menyelimuti bumi. Walaupun mendung menyapa alam, ingatanku seolah masih terbawa disaat aku tidur tadi. Ternyata tadi aku bermimpi indah, aku bermimpi jadi seorang raja yang tinggal di istana megah dan seorang permaisuri nan cantik jelita melengkapi kebahagiaan di sisiku.
Di dalam mimpi itu, aku adalah seorang raja yang menguasai seantero negeri. Dalam mimpi itu juga aku membangun pusat kebudayaan melayu dunia, di tanah kelahiranku daerah Bengkalis. Alangkah bahagianya hidupku di dalam mimpi itu. Secercah senyum tergores di bibirku mengingat-ingat mimpi siang bolong tadi, aku berharap ini tidak hanya sekedar mimpi belaka, aku berharap suatu saat nanti akan bisa mewujudkan mimpi indah tersebut.
Matahari mulai menghilang di ufuk barat, burung-burungpun lalu-lalang menuju peraduan masing-masing, langit mulai menghitam, awan merah mulai memperlihatkan keindahannya kepada setiap insan yang bertebaran di muka bumi, gema adzan maghribpun berkumandang menghiasi jagat raya. Terlihat oleh ku insan yang berduyu-duyun menuju Masjid Darul Amal sekitar 200 meter dari kos ku, masjid ini adalah saksi bisu mahasiswa-mahasiswa UIN SUSKA menghadapkan diri kepada sang Rabbul Jalil, Allah SWT. Aku mengambil peci yang ada didekat baju, lalu bergegas menuju masjid tersebut, untuk melaksanakan shalat maghrib berjamaah. Kamipun shalat dengan khusukny,a merendah diri kepada tuhan semesta alam, Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Setelah selesai shalat, Aku mengambil Al-qur’an yang ada di lemari Masjid, hatiku terasa sangat tentram ketika membaca firman-firman Allah ini. Alqur’an adalah kitab suci ummat Islam, agama yang Rahmatan lil ’aalamin. Kitab suci ini adalah pedoman hidup dalam mengarungi samudera kehidupan. Dengan melaksanakan ajaran-ajaran yang terkandung di dalamnya, hidup manusia akan selamat dunia dan akhirat.
Tidak terasa setelah mengaji, suara adzan kembali bergema menandakan waktu isya sudah tiba. Kamipun shalat berjamaah di sudut keheningan malam yang dihiasi gemerlap bintang-bintang. Setelah selesai mengerjakan shalat isya, aku pulang menyusuri sudut malam, menuju kos. Dari kejauhan aku melihat dua insan yang sedang menungguku di depan pintu kos ku. Perlahan-lahan aku mendekat, ternyata mereka adalah teman sekelasku, Ridho dan Habib.
“Hai mal dari mana?” tanya salah seorang dari mereka, “Ohh, dari masjid shalat isya” jawabku, kamipun masuk ke dalam kos. Kami duduk di lantai beralaskan tikar, mereka sudah memaklumi bagaimana keadaanku, lalu Ridho bertanya kepadaku “Mal kami mau nanya tentang makalah kita besok, apa sudah selesai?”. “Ohh makalah itu, sudah Ridho kemaren udah aku kerjain, jangan khawatir”.
Kemudian kami ngobrol-ngobrol ringan, mulai dari masalah kampus hingga masalah politik. Ketika ngobrol, Habib mengeluarkan HP dari sakunya dan memutar lagu barat. Aku menghela nafas ketika mendengar lagu yang sedang diputar. Habib mengambil HP dari tanganku sembari minta izin, “Mal aku make HP mu ya, mau ngirim-ngirim lagu”. “Iya silahkan” jawabku, “Mal di sini nggak ada lagu-lagu band ya, kok semuanya lagu-lagu melayu sih” kata Habib. “Iya Bib aku kurang suka lagu-lagu kayak gituan, aku lebih suka lagu-lagu melayu karena aku sangat cinta budaya kita” jawabku. “Aduh... Mal kamu kuno banget sih, kita tu anak muda, kita nggak boleh ketinggalan zaman, ya lagu-lagunya harus kayak di HP ku ini”. “selera orang itu kan berbeda-beda Bib” jawabku. Habib pun, mulai memaklumi. Tidak terasa hari pun semakin larut Ridho dan Habib pamit pulang karena besok kami akan masuk kuliah.
Hari yang cerah, secerah hatiku di hari kamis ini, Aku sudah sampai di sekolah jam 07.30 tadi. Waktu di dalam kelas, kosma (ketua kelas) mengumumkan informasi kepada kami, “Teman-teman sekalian.... ada berita penting. Yang pertama, akan diadakan perlombaan lagu band 2014 yang di sponsori oleh salah satu operator seluler, akan diadakan di depan fakultas sains tekhnologi. Yang kedua, akan diadakan festival budaya melayu di gedung PKM. Di dalam festival budaya melayu ini, ada tiga kategori cabang yang diperlombakan, yaitu kompetisi lagu melayu, lomba tari melayu dan lomba teater bertema budaya melayu”
 Kosma menambahkan bahwa kedua acara tersebut, sama-sama dilaksanakan pada tanggal 07 januari 2014, bagi yang berniat agar mendaftarkan diri secepatnya ke sekretaris kelas kami yaitu saudari Nur. Karena dosen belum hadir, teman-teman yang hadir di dalam kelaspun mulai mendaftarkan diri masing-masing. Sungguh memprihatinkan, yang mengikuti lomba Festival Budaya Melayu dari kelas kami hanya aku sendiri, sedangkan yang mengikuti lomba lagu band berjumlah sepuluh orang, kembali aku menghela nafas dalam-dalam di tengah-tengah zaman yang semakin edan.
Beginilah nasib budaya melayu di generasiku ini, entahlah apakah mereka lupa atau sengaja dilupakan, aku berjanji suatu saat nanti akan mengangkat harkat dan martabat budayaku ini. Berselang seperempat jam sang dosen datang dan memberikan pelajaran kepada kami. Kamipun belajar seperti biasanya.
Tiada terasa detik berganti dengan menit, menit  berganti dengan jam, jam pun berganti hari, tibalah saatnya hari yang aku nantikan, ya hari ini aku akan tampil maksimal dalam lomba lagu melayu. Aku berjalan mengikuti arah jejak kaki menuju gedung PKM yang sudah di tata sedemikian rupa, aku duduk di tempat yang sudah disediakan oleh panitia. Selanjutnya penampilan nomor peserta sepuluh kata sang MC, ku langkahkan kaki menuju panggung, aku menyanyikan lagu lancang kuning di hadapan ratusan penonton yang jadi saksi terselenggaranya acara. Sorak-sorai dan tepuk tangan penonton mengiringi penampilanku, aku berusaha tampil semaksimal mungkin demi budaya yang aku cinta.
Tepat pada pukul 15.00 pengumumkan acara pun dimulai, hatiku berdetak kencang ketika mendengar MC membacakan nama para pemenang, “kategori pemenang lagu melayu terbaik adalah, juara tiga jatuh kepada nomor peserta 28 atas nama Muhammad Abdi dari fakultas tarbiyah, juara kedua jatuh kepada nomor peserta 07 atas nama Siti Khodijah dari fakultas sains tekhnologi, dan inilah dia yang kita nantikan juara pertama jatuh kepada.... siapa ya kira-kira, tanya sang MC. Hatiku semakin berdetak kencang, aku pasrah bagaimanapun hasilnya, karena aku sudah berusaha tampil semaksimal mungkin.  
“Juara pertama jatuh kepada nomor peserta 10 atas nama Mustopa Kamal dari fakultas Syariah”,  aku pun langsung sujud syukur kepada Sang Khalik. hatiku sungguh bahagia sekali dihari yang sangat bersejarah ini. Kemudian MC memberikan kesempatan kepadaku untuk menyampaikan beberapa patah kata, aku mengucapkan terima kasih kepada semua orang yang telah mendukungku dan yang telah mendukung terselenggaranya acara ini. Di di atas panggung aku ungkapkan jeritan hati melalui sajak puisi yang berbunyi:
Budaya melayu di generasiku...Budaya melayu nasibmu kini....
Engkau laksana debu yang dihempas angin di tengah gersangnya gurun sahara
Engkau laksana buih yang terhanyut di tengah derasnya arus sungai Siak
Aku ingin jadi saksi kejayaanmu di sudut kota ini
Aku ingin engkau jadi raja di negerimu sendiri
Aku yakin suatu saat nanti engkau akan jadi primadona
Aku yakin suatu hari nanti kau akan dicintai generasi muda
Budaya melayuku, engkaulah jati diriku.
Setelah semua acara selesai aku melangkah menuju pulang, ku tinggalkan gedung yang tadinya dipenuhi lautan manusia. Ketika di halaman gedung, aku menatap ke langit biru, terlihat olehku mentari yang perlahan-lahan terbenam di ufuk barat, tersenyum manis kepadaku. Mentari tersebut seolah ikut merasakan kebahagiaanku dihari yang bersejarah ini. Hati kecilku berjanji perestasi ini akan menjadi pemicu bagiku untuk melestarikan dan memajukan kebudayaan ini, budaya melayu.

SELESAI

0 komentar:

Translate

Jumlah Pembaca

Instagram @kamal_btr